26
Jan
09

SUARA-SUARA DI POJOKAN SURGA

Sudah beberapa hari saya bangun lebih awal –lebih nyubuh- dari biasanya. Namun kali ini berbeda, televisi mungkin  sudah mendarah pada setiap pembuluh darah otak manusia di zaman ini, termasuk Bapak saya yang subuh hari sudah nongkrong di depan kotak ajaib itu. Masih lengkap dengan sarung dan peci-nya :

“Ah maenya golput wae haram! Rokok mah pek wae lah” (Ah, masa golput haram! Kalau rokok mah silakan saja lah), ujar bapak sambil mengerenyitkan jidatnya tanda tak setuju.

Maklum, sudah beberapa kali pemilihan umum, Bapak memilih untuk golput.

“Teu ngaruh, komo deui mun ABRI-ABRI deui mah, ulah daek” (Ngga ngaruh, apalagi kalo ABRI-ABRI (militer maksudnya –pen) lagi, jangan mau), ucapnya menggerutu.

Saya terperanjat dari tempat tidur, rasa ingin tahu menggeliat seketika.  Oh, ternyata acara berita di televisi sedang menayangkan  seputar hasil sidang Ijtima Ulama Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia III yang menyimpulkan bahwa golput itu haram hukumnya disamping rokok yang telah dirumuskan jauh hari sebelumnya. Saya hanya bisa tersenyum.

***

“Karena setiap umat Islam harus menggunakan hak pilihnya sebaik mungkin dalam pemilu”, begitu yang saya dengar. Aneh saya pikir, buat apa MUI mengeluarkan fatwa yang begituan ya?. Ternyata ada syarat golput yang digolongkan haram, “Jika tidak ada dalam Pemilu mendatang tidak ada satupun calon legislatif yang bisa memenuhi aspirasi masyarakat, maka umat Islam tidak wajib menggunakan hak pilihnya”. Sekarang mereka bilang wajib tidak wajib. Yang selama saya tahu dalam konteks secara umum, wajib itu kan harus dilakukan jika tidak dilaksanakan  akan mendapat hukuman entah di sekolah, kampus, kota (ada istilah wajib pajak ya?) sampai agama, lalu apa bedanya dengan haram yang notabene sama-sama mendapatkan hukuman saat tidak dilaksanakannya?. Semoga saya salah.

Terlintas dalam benak saya sederetan partai-partai politik yang berlandaskan Islam sisanya -yang katanya- nasionalis bersorak kegirangan, berharap fatwa tersebut dapat mendongkrak suara serta meringankan beban kampanye mereka pada Pemilu mendatang, toh walalupun semua wakil berkriteria buruk kita tetap diwajibkan memilih. “Lebih baik memilih yang sedikit buruknya dibanding yang lain daripada negara ini tidak memiliki pemimpin”, satu lagi yang saya dengar dari salah satu koordinator sidang di salah satu acara berita stasiun televisi nasional. Bukankah baik-buruk, hanya sebuah dikotomi hitam-putih klasik yang bersifat relatif dan tak terbatas?. Atau bentuk phobia berlebih para ulama dan birokrat Islam mengenai siapa yang terpilih nanti akan menyudutkan Islam?. Yang pasti proses regenerasi dari semua sistem yang sudah kita jalani sampai saat ini akan terus berjalan. Semoga saya salah.

Kini tiap suara yang kita layangkan pada kotak suara pun turut menghantarkan kita menuju surga walaupun hanya pojokan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


Advertisements

%d bloggers like this: