06
Feb
09

ALEGORI MALAM SUBUH

senjakala1

Engkau tau? sekelebat cahaya pagi sudah tak ragu menampak, sedang aku disini masih menunggu, nyaris menghabiskan seperempat malamku. Membiarkan gugusan bintang terbesar itu terus menyala hingga tak ada lagi satupun spesies merasakan terangnya. Engkau pun menunggu, tapi itu dulu pikirku. Tapi menunggu sesuatu yang seharusnya memang tak perlu ditunggu apakah masih bisa dikatakan menunggu?

Seharusnya aku tak perlu risau dengan segala pergolakan ini. Karena bagiku ini bisa jadi merupakan momen yang tepat untuk dapat menghasilkan bintang yang paling terang, itu dulu. Engkau memang berhak meruntuhkan seluruh monumen-monumen imajiku, meratakan seluruh puingnya hingga luruh dengan tanah. Kau memang berhak, seperti Tuhan yang katanya akan meluluh-lantahkan seluruh semesta jika tiba waktunya, karena memang Dia-lah yang mencipta. Seperti dirimu yang mencipta seluruh fragmen-fragmen isi padang mimpi, imajiku. Mungkin memang aku dirancang sedemikian rupa menjadi segumpal tanah bercampur darah yang dengan mudahnya rapuh tersapu waktu? Entahlah, Tuhan sepertinya tak pernah memberitahuku mengenai hal itu. Sebatas kisi-kisi sepertinya. Tapi adanya engkaulah yang membuat kisi-kisi itu semakin jelas dan nyata. Rentetan emosi lalu mungkin hanya sebatas lembaran-lembaran utopia yang mewujud dalam setiap simbol dan kata menjadi seterjal realitas. Dan kesalahan terbesarku saat ini terlalu mempercayai wujud itu, membiarkan dirinya menari-nari seenak jidat dalam tiap bit memoriku, mengontrol lalu membiarkan diriku terus bersandar pada dirimu.

Memang engkau bisa menyelami seluruh lautan dalam dunia ini (engkau ingat?) lalu menyembul tiba-tiba kemudian terbang, akan kembali setelah berselimut maupun terbang setinggi-tingginya setelah minum susu, itu sebuah keputusan. Tapi kali ini engkau sudah terlanjur terbang terlalu tinggi, melampaui Ikarus!. Kepakan sayapku pun tak mampu menyainginya. Untuk terbang dirasa sulit, terlalu rapuh. Ketika semua berawal dari suatu percakapan asing, di dunia asing, dan kini, kembali terasing. Malam (subuh) ini, disini, di dunia ini, kembali tanpa kehadiran gravitasi… semua melayang-layang, hampa dan dunia diluar sana semakin hari tampak semakin banal adanya…

060209. 00.30.

Advertisements

1 Response to “ALEGORI MALAM SUBUH”


  1. 1 pensilwarna
    May 23, 2009 at 8:32 am

    so deep.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


Advertisements

%d bloggers like this: