23
Mar
09

DUNIA LAIN ITU MEMANG BENAR ADANYA.

Langit sudah terlihat mendung sedari keberangkatan saya menuju sebuah forum sastra yang diadakan di salah satu gedung bersejarah di Bandung. Klimaksnya setelah acara baru saja dibuka, hujan turun dengan derasnya. Membuat suara-suara dalam gedung terdistorsi oleh gemuruh suara air hujan. Hujan tak juga kunjung berhenti setelah acaranya selesai. Oia, ini merupakan pengalaman kali pertama saya dalam mengunjungi sebuah forum sastra, khususnya mengenai puisi. Ternyata menyenangkan juga, banyak ide-ide yang bisa saya pelajari dari kegiatan seperti ini, mengingat saya termasuk orang yang sangat asing dalam dunia persastraan, ide-ide yang belum pernah saya dapatkan dari bangku sekolah dulu hingga saat ini. Hari sudah sore, langit masih terlihat asik mempermainkan manusia-manusia dibawahnya dengan air. Saya memutuskan untuk berhujan-hujan ria saja, disamping saya berpikir toh bahwa di perjalanan nanti hujan akan berhenti, juga karena teman saya yang terlihat tak tenang karena salah satu tugas laboratoriumnya yang belum selesai. Kasihan juga.

Perkiraan saya salah sepenuhnya, sepertinya memang benar bahwa langit sudah tak konsisten. Setelah beberapa menit hujan berhenti sejenak, tiba-tiba saja mengguyur kembali berulang-ulang. Saya terpaksa berteduh di emperan toko yang berada tepat di depan Gedung Merdeka. Di pojokan kanan bangunan, seorang bapak terlihat asik mengisi lembaran teka-teki silang dan disampingnya, seorang ibu sedang berselimut duduk membelakangi jalan. Setengah batang rokok sudah saya habiskan, menguap linier bersama asap yang paru-paru hisap. Datanglah seorang lelaki yang saya tak bisa perkirakan umurnya. Badannya tegap dengan lengan penuh tato berjanggut tipis, sekilas mirip artis sinetron kawakan Eeng Saptahadi. Dia tersenyum ramah sembari membereskan lantai dan menghamparkan beberapa lembar kardus. “Persiapan tidur jang”, ucapnya. Setelah kami memulai perbicaraan kecil mengenai hujan yang belum juga reda, saya mengajaknya berkenalan sembari menawarkan rokok, “Dodi..”, jawabnya mantap. Beberapa menit setelahnya datang juga perempuan yang juga tak bisa saya perkiraan umurnya, duduk di alas yang sudah di persiapkan.

Dodi adalah seorang pengumpul barang-barang bekas, berbekal gerobak sederhana yang setiap harinya dipakai untuk “berpatroli”, berburu barang-barang bekas berupa besi tua atau botol-botol di jalan-jalan sekitar Asia-Afrika. Setiap hari ia tidur di tempat dimana kami bercerita waktu itu. Di sebuah pojokan emperan toko yang disulap menjadi sepetak tempat beristirahat bersama. Ya bersama, karena beberapa menit kami mengobrol datanglah seorang kakek tua berkacamata menghampiri. Sang perempuan dengan seketika menawarkan tempat favorit si kakek -di pojokan tembok- dan menyuruhnya segera duduk beristirahat. Dan tampaknya mereka masih menunggu salah satu kerabatnya yang sama-sama menjadikan tempat itu sebagai tempat istirahat setiap malamnya. “Sudah lama”, katanya, tanpa menyebut bilangan waktu yang lebih spesifik ketika ditanya sudah berapa lama menjadikan tempat ini sebagai tempat singgahnya.

Saya berpikir ketika orang-orang di luar sana (termasuk saya, kamu?) merasa takut kehilangan sesuatu yang kita miliki. Entah di kos-kosan, komplek perumahan, pemukiman, dll, rela membayar untuk mengerahkan sepasukan manusia untuk menjaga barang-barang kita. Belum lagi untuk alat-alat pendukung keamanan lainnya : lusinan gembok, sepasang anjing penjaga, kamera CCTV, pentungan, kawat berduri (berlistrik?), alarm nan canggih, ranjau darat, sampai jin penunggu rumah mungkin (selintas saya teringat potongan film The Edukators dan Janji Joni). Sedangkan mereka dapat tidur dengan tenang, tanpa takut merasa kehilangan. Dan yang pasti tidak perlu khawatir dengan biaya listrik yang membengkak, penggunaan pulsa berlebih, pajak kendaraan dan rumah. “Sudah untuk makan sehari juga sudah cukup bagi kami dan besok mesti cari barang lagi biar bisa makan”, ujar Doni tersenyum seraya menghisap sebatang rokok dalam-dalam. Lalu ketika saya bertanya mengenai kepada siapa apabila barang-barang bekas itu akan dijual dia menjawab dengan ringan, “Yaa ke yang nawarin harga lebih tinggi aja, berapapun yang penting lebih tinggi, ga pake bos-bos-an kaya orang lain, saya ga suka bos-bos-an, saya ga mau terikat”. “Kalau ada razia satpol pp gimana pak?”, saya bertanya kembali. “Kalau satpol pp mah ga pernah razia tukang loakan, kalo tukang minta-minta sama pedagang baru biasanya ditangkap, mereka kalo liat gerobak kita, mereka juga ngerti, lagian kalo minta-minta saya ga suka, nunggu pemberian orang gitu, nunggu dikasihani, kan lebih baik tangan di atas daripada di bawah, yang penting kerja dulu terus bisa makan buat sehari juga cukup”, jawabnya mantap dengan ekpresi muka serius sejenak lalu tersenyum lebar setelah menghirup rokoknya dalam-dalam. Saya pun hanya bisa tersenyum melihat apa yang telah Dodi yakini (dan berpikir ternyata kelakuan si “pasukan sok tertib” ga monster-monster amat, tapi monster tetap aja monster kan).

Sebenarnya saya ingin lebih lama lagi bertukar cerita bersama Dodi dan kawan-kawannya, melihat hujan yang sudah reda, otomatis saya tak ada alasan lagi untuk membiarkan wajah teman saya yang sudah tak karuan, akhirnya saya berpamitan untuk undur diri. Label kaya atau miskin yang muncul dalam nilai-nilai masyarakat seharusnya dapat dilihat dengan kebutuhan hidupnya, tidak jarang orang-orang kaya yang masih saja merasa miskin seiring dengan hasrat akan kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Selalu merasa kurang karena keinginan kita yang semakin menjadi akan kebutuhan-kebutuhan fiktif. Sebaliknya orang yang kurang secara kapital justru hatinya merasa kaya ketika kebutuhan hidupnya tercukupi baik jasmani maupun rohani. Itu yang kadang-kadang kita lupakan. Sampai bertemu lagi bapak Dodi. Terimakasih. Lengkap sudah hari ini.

Sisipan cerita :
Sebelumnya saya mencak-mencak sendiri ketika melihat kelakukan langit yang semakin tak karuan, tapi setelah agak reda dan melewati jalan-jalan yang biasanya penuh dengan iklan kampanye caleg yang sama-sama tak karuan juga, agak-agak bersih. Ternyata angin dan air hujan menghempaskan foto-foto narsis mereka jatuh ke jalanan (ada juga yang ke selokan). Langit saja muak sepertinya melihat foto-foto mereka. Ah, terimakasih langit.

Advertisements
07
Feb
09

Review – Sometimes In April

200px-sometimes_in_aprilSutradara : Raoul Peck
Durasi : 140 Menit
Tahun Produksi : 2004

Perang saudara  yang terjadi pada tahun 1994 di Rwanda, menjadi latar belakang film ini. Pertikaian yang melibatkan dua suku di Rwanda, Tutsi dan Hutu berakhir menjadi sebuah genosida, pemusnahan massal suku Tutsi yang ditengarai oleh pihak pemerintah yang mayoritas suku Hutu dan beberapa pemberontak lokal dari suku Hutu. Augustin Muganza, seorang kapten dari tentara Rwanda harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit, istri dan ketiga anaknya terbunuh akibat perbedaan suku. Augustin dari suku Hutu sedangkan istrinya suku Tutsi. Sedangkan saudaranya Honoré Butera, bekerja sebagai penyiar di salah satu stasiun radio setempat yang selalu mempropagadakan kebencian bernada rasis, menjalai sidang melalui mahkamah internasional karena dituduh ikut serta dalam melakukan pembantaian.

Peristiwa pembantaian besar-besaran terjadi beberapa jam setelah Presiden Rwanda, Juvénal Habyarimana terbunuh oleh kelompok yang diduga menolak persetujuan Arusha, penyatuan kekuasaan dari tiga suku di tingkat parlemen negara. Karena Rwanda adalah sebuah negara yang dianggap tidak memiliki potensi di mata dunia (baik sumber daya manusia maupun alam), maka pihak internasional (negara-negara utama dalam keanggotaan PBB, tentu saja) cenderung tidak mengentaskan masalah. Pihak pasukan UN hanya sebatas sebagai formalitas atas keikutsertaannya dalam menjaga perdamaian, selain jumlahnya yang hanya sedikit, pasukan UN hanya mengevakuasi warga negara asing dan tidak mengambil resiko untuk ikut mengevakuasi satupun suku Tutsi.

Berbeda dengan apa yang saya saksikan di film Blood Diamond (2006), film yang mengisahkan perang saudara di ladang berlian, Sierra Leone, Afrika Barat. Pasukan UN “lebih semangat dan bergairah” dalam turun ke medan pertikaian. Yang ternyata terlibat memiliki hubungan jual-beli berlian dengan seorang pekerja bayaran, Danny Archer. Tak heran dalam Sometimes In April, Kolonel Bagosora seorang pentolan tentara Rwanda yang menjadi salah satu dalang peristiwa, berani berkata pada perdana menteri Amerika yang mengancam akan menurunkan pasukan : “Really? You will send the Marines? We have no oil here, no diamonds. We have nothing you need in Rwanda. Why would you come?”.

Memang tak bisa dibayangkan apabila kita yang jelas terlahir di dunia dengan ketidaktahuan kita akan terlahir menjadi siapa lalu mesti menghadapi kenyataan bahwa kita berada di tengah-tengah kebencian, kematian tepat di depan mata dan dapat pula ditentukan.

06
Feb
09

ALEGORI MALAM SUBUH

senjakala1

Engkau tau? sekelebat cahaya pagi sudah tak ragu menampak, sedang aku disini masih menunggu, nyaris menghabiskan seperempat malamku. Membiarkan gugusan bintang terbesar itu terus menyala hingga tak ada lagi satupun spesies merasakan terangnya. Engkau pun menunggu, tapi itu dulu pikirku. Tapi menunggu sesuatu yang seharusnya memang tak perlu ditunggu apakah masih bisa dikatakan menunggu?

Seharusnya aku tak perlu risau dengan segala pergolakan ini. Karena bagiku ini bisa jadi merupakan momen yang tepat untuk dapat menghasilkan bintang yang paling terang, itu dulu. Engkau memang berhak meruntuhkan seluruh monumen-monumen imajiku, meratakan seluruh puingnya hingga luruh dengan tanah. Kau memang berhak, seperti Tuhan yang katanya akan meluluh-lantahkan seluruh semesta jika tiba waktunya, karena memang Dia-lah yang mencipta. Seperti dirimu yang mencipta seluruh fragmen-fragmen isi padang mimpi, imajiku. Mungkin memang aku dirancang sedemikian rupa menjadi segumpal tanah bercampur darah yang dengan mudahnya rapuh tersapu waktu? Entahlah, Tuhan sepertinya tak pernah memberitahuku mengenai hal itu. Sebatas kisi-kisi sepertinya. Tapi adanya engkaulah yang membuat kisi-kisi itu semakin jelas dan nyata. Rentetan emosi lalu mungkin hanya sebatas lembaran-lembaran utopia yang mewujud dalam setiap simbol dan kata menjadi seterjal realitas. Dan kesalahan terbesarku saat ini terlalu mempercayai wujud itu, membiarkan dirinya menari-nari seenak jidat dalam tiap bit memoriku, mengontrol lalu membiarkan diriku terus bersandar pada dirimu.

Memang engkau bisa menyelami seluruh lautan dalam dunia ini (engkau ingat?) lalu menyembul tiba-tiba kemudian terbang, akan kembali setelah berselimut maupun terbang setinggi-tingginya setelah minum susu, itu sebuah keputusan. Tapi kali ini engkau sudah terlanjur terbang terlalu tinggi, melampaui Ikarus!. Kepakan sayapku pun tak mampu menyainginya. Untuk terbang dirasa sulit, terlalu rapuh. Ketika semua berawal dari suatu percakapan asing, di dunia asing, dan kini, kembali terasing. Malam (subuh) ini, disini, di dunia ini, kembali tanpa kehadiran gravitasi… semua melayang-layang, hampa dan dunia diluar sana semakin hari tampak semakin banal adanya…

060209. 00.30.

30
Jan
09

SUARA-SUARA TERJAGA

Rasanya sudah lama saya tidak “menikmati” suasana kota Bandung, disamping lokasi kampus saya yang cukup jauh dari hingar-bingar kehidupan kota,  hampir tidak ada waktu bagi saya menyempatkan diri berkunjung ke kota ketika musim kuliah, rutinitas yang membosankan membuat saya terlarut dalam keseharian dan harus dibayar dengan rasa bosan yang luar biasa.  Anehnya saya selalu bisa mereduksi segalanya ketika mencapai klimaks walaupun hanya dalam kurun waktu yang sangat terbatas dan pada pada akhirnya kembali terlarut, kembali terjebak dalam runititas. Kemudian merasa bahwa dunia yang saya pijak saat itu baik-baik saja.

Kemarin saya putuskan untuk sekedar memenuhi rasa penasaran saya, menelusuri jalan-jalan Kota Bandung tanpa tujuan pasti. Sudah menjadi hobi saya sejak jaman sma dulu, menuju suatu tempat yang tidak direncanakan sebelumnya atau mencari sesuatu yang sesungguhnya memang tidak pernah ada, membiarkan semua mengalir. Setelah beberapa puluh menit saya lewati, suasana khas perkotaan mulai terasa : kemacetan, lalu-lalang sekumpulan robot, pusat-pusat perbelanjaan yang selalu ramai, nyanyian kehidupan anak-anak jalanan, volume kendaraan yang semakin menggila, menara konstruksi dan BTS makin ramai menantang langit  dan udara yang  semakin panas meskipun sekarang masih musim hujan. Ditengah-tengah invasi papan-papan reklame yang tak lebih dari dongeng pengantar tidur dan ribuan atribut kampanye yang semakin carut-marut, saya selalu merasa terhibur dengan coretan-coretan dinding, seolah tak ada hentinya meneriakan suara-suara terjaga, tak mengenal rasa lelah, sinis dan penuh curiga dan tetap anonimus. Sebagai pelengkap pernak-pernik kota di antara belukar raksasa pasar bagai David  ketika melawan Goliath. Terimakasih membuat saya agar tetap tersadar, bahwa dunia yang saya sedang jalani sekarang tidak sebaik yang saya kira.

Izinkan saya mendokumentasikan beberapa yang sempat tertangkap oleh mata saya.

Cops Kill People

Ini favorit saya, terlintas seketika beberapa kasus penembakan terhadap warga sipil oleh pihak aparat di beberapa tempat yang berujung kematian sampai berujung kerusuhan. Dan yang saya heran si komandan besar selalu bicara, “Tersangka masih dalam penyidikan dan akan di proses sesuai dengan hukum yang berlaku bila terbukti bersalah” atau “Pihak kepolisian melakukannya sesuai dengan prosedur yang berlaku”, kemudian media dengan polosnya mengganti istilah menembak dengan tertembak. Lalu pemberitaan mengenai kelanjutan kasusnya menguap begitu saja. Dan juga sedikit mengingatkan kembali peristiwa ketika sepatu bot mereka mencium telinga kanan saya, gratis loh.

Buat Apa Pemilu?

Sangat relevan mengingat Pemilu 2009 sebentar lagi.

Kamu Gak Butuh Ini

Kita memang terbiasa untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Class War
Rakyat Bergerak

...

....

26
Jan
09

SUARA-SUARA DI POJOKAN SURGA

Sudah beberapa hari saya bangun lebih awal –lebih nyubuh- dari biasanya. Namun kali ini berbeda, televisi mungkin  sudah mendarah pada setiap pembuluh darah otak manusia di zaman ini, termasuk Bapak saya yang subuh hari sudah nongkrong di depan kotak ajaib itu. Masih lengkap dengan sarung dan peci-nya :

“Ah maenya golput wae haram! Rokok mah pek wae lah” (Ah, masa golput haram! Kalau rokok mah silakan saja lah), ujar bapak sambil mengerenyitkan jidatnya tanda tak setuju.

Maklum, sudah beberapa kali pemilihan umum, Bapak memilih untuk golput.

“Teu ngaruh, komo deui mun ABRI-ABRI deui mah, ulah daek” (Ngga ngaruh, apalagi kalo ABRI-ABRI (militer maksudnya –pen) lagi, jangan mau), ucapnya menggerutu.

Saya terperanjat dari tempat tidur, rasa ingin tahu menggeliat seketika.  Oh, ternyata acara berita di televisi sedang menayangkan  seputar hasil sidang Ijtima Ulama Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia III yang menyimpulkan bahwa golput itu haram hukumnya disamping rokok yang telah dirumuskan jauh hari sebelumnya. Saya hanya bisa tersenyum.

***

“Karena setiap umat Islam harus menggunakan hak pilihnya sebaik mungkin dalam pemilu”, begitu yang saya dengar. Aneh saya pikir, buat apa MUI mengeluarkan fatwa yang begituan ya?. Ternyata ada syarat golput yang digolongkan haram, “Jika tidak ada dalam Pemilu mendatang tidak ada satupun calon legislatif yang bisa memenuhi aspirasi masyarakat, maka umat Islam tidak wajib menggunakan hak pilihnya”. Sekarang mereka bilang wajib tidak wajib. Yang selama saya tahu dalam konteks secara umum, wajib itu kan harus dilakukan jika tidak dilaksanakan  akan mendapat hukuman entah di sekolah, kampus, kota (ada istilah wajib pajak ya?) sampai agama, lalu apa bedanya dengan haram yang notabene sama-sama mendapatkan hukuman saat tidak dilaksanakannya?. Semoga saya salah.

Terlintas dalam benak saya sederetan partai-partai politik yang berlandaskan Islam sisanya -yang katanya- nasionalis bersorak kegirangan, berharap fatwa tersebut dapat mendongkrak suara serta meringankan beban kampanye mereka pada Pemilu mendatang, toh walalupun semua wakil berkriteria buruk kita tetap diwajibkan memilih. “Lebih baik memilih yang sedikit buruknya dibanding yang lain daripada negara ini tidak memiliki pemimpin”, satu lagi yang saya dengar dari salah satu koordinator sidang di salah satu acara berita stasiun televisi nasional. Bukankah baik-buruk, hanya sebuah dikotomi hitam-putih klasik yang bersifat relatif dan tak terbatas?. Atau bentuk phobia berlebih para ulama dan birokrat Islam mengenai siapa yang terpilih nanti akan menyudutkan Islam?. Yang pasti proses regenerasi dari semua sistem yang sudah kita jalani sampai saat ini akan terus berjalan. Semoga saya salah.

Kini tiap suara yang kita layangkan pada kotak suara pun turut menghantarkan kita menuju surga walaupun hanya pojokan.

15
Jan
09

Bosan : Penawar Realitas?

Sudah dua minggu hari-hariku dipenuhi dengan deretan angka-angka biner-imajiner dan simbol-simbol yang membuat kepala ini nyaris meledak. Layaknya zombie, ya aku sudah sangat seperti zombie, rutinitas keseharian yang itu-itu saja -identik- sudah mengebiri setiap jengkal hidupku. Klimaksnya saat semua segala kecemasan dan kegelisahan bergumul ketika mengakhiri lembar-lembar yang bisa menentukan seberkas angka yang biasa mereka sebut indeks prestasi, bosan rasanya…

Sosok bayangan teman-teman lama yang sempat mampir dalam hidupku,  kesana-kemari berlarian di kepala ini dengan begitu lincahnya, sesekali menari-nari. Ah, kadang mengganggu kadang membuat rasa rindu ini menggebu-gebu. Ingin rasanya bertemu walaupun untuk sekedar menyapa atau bertatap mata. Huh.

Saat langit tak lagi konsisten dengan keputusannya (atau keputusasaannya?),  rasa bosan ini menyeruak hingga batas alam bawah sadar yang tak terbatas. Kombinasi tembakau murni berbalut kertas papir dan secangkir kopi robusta dengan iringan hentakan musik-musik tanpa jeda, saat ini tak mampu mengusir rasa bosan yang begitu hebat menginvasi setiap jejak hasrat hingga urat-urat syaraf semakin lemah dalam merespon setiap impuls. Alhasil kacamata retak, kepala ini pening kurang darah.

15
Jan
09

Selamat, Segalanya.

Sudah lama rasanya ingin menuangkan sedikit isi kepala  dalam kavling digital yang masih terasa hampa hingga saat ini. Sekedar untuk mengisi kekosongan sembari melalui segala kegelisahan dan kecemasan.

Ya, selamat datang. selamat tahun baru.Walaupun bagi saya tidak ada yang menarik dalam pergantian tahun ini hanya perubahan angka terakhir, 8 menjadi 9 dan perayaan tahun baru yang begitu ‘meriah’ di Palestina sana.

Terimakasih, salam hangat selalu.